FANATISME = MASA PUBER


Posted on January 14th, by Republik Cinta Management in Keagamaan. 19 comments

Ketika saya masih duduk di SD MUHAMMADYAH VI Surabaya—saat itu awal tahun 80 an—sedang ada pemilu di Indonesia. PPP saat itu terkenal sebagai partai Islam dan kebetulan ayah saya adalah aktivis dari partai berlambang KA’BAH tersebut. Sehingga mau nggak mau saya pun ikut-ikutan dalam pesta demokrasi tersebut. Tentunya karena saya beragama Islam, saya merasa PPP adalah partai yang harus saya pilih dan kalau ada teman saya yang tidak mendukung, otomatis saya memusuhinya. Sedemikian besar rasa fanatisme saya.

Di sekitar tahun itu juga, dua orang sepupu saya pindah agama dari Islam ke agama Oma–Opa saya yaitu Katholik. Perpindahan agama sepupu saya tersebut membuat saya kecewa berat dan sempat terjadi debat panjang lebar antara saya dan kedua sepupu saya tersebut tentang posisi Jesus sebagai Tuhan dan Anak Tuhan. Saya nggak bisa membayangkan saat ini: apa yang dibicarakan anak SD ( saya dan sepupu saya ) saat itu? Peristiwa awal 80- an tersebut diakhiri dengan berderainya air mata saya yang menangisi nasib sepupu saya yang pasti masuk neraka karena murtadnya ( kira- kira begitu pemahaman saya saat itu ).

Begitulah sebagian kecil cerita cerita di masa puber saya, sehingga fanatisme itu semakin lama semakin pudar seiring dengan semakin dewasanya pemikiran saya yakni semenjak saya semakin banyak mempelajari ilmu agama dan peradabannya hingga tasawuf yang melepaskan saya menuju kepada kedewasaan dalam beragama .
Fanatisme adalah masa-masa yang harus dilewati oleh setiap muslim yang haus akan ilmu Tuhan. Sebab, pola pikir fanatisme adalah pola pikir kanak-kanak yang harus dilampauai untuk menunju pola pikir dewasa, termasuk dalam beragama. Tetapi sayangnya tidak semua lolos menjadi dewasa dalam memahami keanekaragaman agama-agama dan tafsir-tafsirNYA. Tetap saja ada yang masih terjebak dalam masa-masa puber. Bener-bener capek nglihat orang yang kayak beginian! Umurnya sih sudah tergolong syaikh-syaikh, tetapi pemikirannya masih taman kanak-kanak.! Repot deh jadinya!!

Jalaluddin Rumi pun pernah mengalami masa- masa puber di usia muda nya, sehingga membuat dia sering terlibat debat-debat terbuka dengan beberapa pendeta Khatolik. Tetapi Jalaluddin Rumi muda cepat menuju kedewasaannya sehingga boleh sejarah katakan bahwa Jalaludin Rumi tidak hanya di kenal sebagai pemimpin orang Islam, tetapi juga pemimpin semua umat agama. Bahkan saat Jalaluddin Rumi meninggal dunia, seluruh pemimpin umat beragama bergantian memberikan penghormatan terakhir di depan pusara Jalaluddin Rumi . Subhanallah!





19 Responses to “FANATISME = MASA PUBER”

  1. budi says:

    setuju!
    postingan pakde tambah panjang nih, asiiik

  2. budi says:

    kok blog nya gak ada kategori musiknya?

  3. Mahruz says:

    like this maz..,semakin brtambah ilmu saya mbaca blog sampean..?

  4. Firman Ahmad says:

    posting kali ini serasa berbeda dengan postingan-postingan “singkat” sebelumnya. Lebih luwes dan tidak langsung ke poin permasalahan, lebih nge-blog lah :D

    intinya setuju dengan poin yang Bang Dhani sampaikan. Ditunggu postingan selanjutnya…salam :)

  5. gery says:

    kenapa blognya gk ada tentang musik?karena mas dhani udah mahir dan pinter di bidang Musik,kenapa blognya banyak mengandung keagamaan?karena mas dhani baru belajar Islam yang sesungguhnya,…benar gk ya? haha…

  6. pcc says:

    Bikin web utk mobile napa? Repot mo baca pake hp jadul

  7. riorio says:

    Klo mau bljr musik, kursus,, atau beli bukunya, banyak edisi bahasa indonesia… Klo mau belajar agama,, paling ga lo harus ngerti bhs arab dan inggris, nilai plus klo bs bhs ibrani,dan bhs “hati” ,, kdg yg bs bhs extra itu pun ga ngerti pmhman agama. mas dhani ngerti arab dan inggris,, ga ada salahnya pakde mnympaikan pemahaman2 pakde k kita,,,

  8. zad says:

    Sesungguhnya Tuhan menciptakan kita adalah bersaudara untuk saling bersahabat, bukan untuk saling bermusuhan satu dengan yang lainnya. Kehidupan beragama adlh media untk membangun sifat-sifat bersaudara dan bersahabat tersebut. Sikap fanatik pada agama yang dianut seharusnya diarahkan pada arah yang positif ke dalam diri kita. Sikap keagamaan yang berlebihan dlm Kamus Populer dsbt ”fanatiek”. Sikap yang berlebihan itu dapat saja berakibat baik dan buruk. BURUK, Kalo sikap fanatik itu dengan hanya menganggap agama kita yang baik dan benar, sedangkan agama yang dianut oleh orang lain adalah agama yang jelek dan salah. Kalau agamanya mengajarkan hormatilah keyakinan orang lain. Maka secara konsekuen ia tidak akan menghina keyakinan orang lain. Sebetulnya Kekuatan kita terletak pada kemampuan untuk bekerja sama secara sinergis untuk mengatasi berbagai persoalan hidup yang dihadapi. Kita akan lemah kalau tidak mendayagunakan kemampuan untuk bekerja sama dalam mengatasi persoalan hidup. Kalau fanatik beragama yang sempit itu dilakukan justru menjadi penghambat yang paling serius bagi kita dalam membangun kerja sama tersebut. Lalu Kehidupan beragama justru akan menjadi momok bagi kita apabila perang karena alasan agama. Teroris dengan alasan agama. Diskriminasi sosial dan sejenisnya akan terjadi karena alasan agama. Fanatik sempit itu justru mengotori kesucian agama sabda Tuhan itu.

  9. zad says:

    Hehehehh,,, tapi ane Fanatik si Botax B’janggut,, ane BALADEWA-BALADHANI siihh,, gemana donk,,heheheh Peace,, Guyon Pak De

  10. riorio says:

    puber = ababil = baru tmbuh jrawat = kumis brantakan = bahasa gaul (ikut2an trend), malah ga enak dliat,,ngeri jg klo smpe tua bgtu,, wkwkwkw

  11. uletbulu says:

    setuju. tambah sebel dengerinnya kalo ngotot banget..

  12. anton eko says:

    pertama tama mo bilang, fotonya keren banget, andai saya berkesempatan berfoto bersama beliau…
    Inilah pernyataan keren dari seorang besar di Indonesia. Rukun agawe santoso, crah agawe bubrah. kenyataannya adalah pengalaman pribadi saya seorang mualaf bahwasanya saya cinta Islam karena cinta kasihnya. saya yakin dengan kesewenangwenangan oknum ormas bodoh itu, akan membuat salah persepsi mereka akan Islam sebagai Rahmatam Lil Alamin.

  13. Fahmi Baladewa ( @Fahmi_TRIAF) says:

    Mas Dhani, Kamu adalah sumber Inspirasi!!

  14. Zaki Zhee Restoe Boemi says:

    Satujuhh !!!

  15. Abduh says:

    Nambah Ilmu…

  16. kudil says:

    Saya sangat setuju dengan pemikiran pak de.. Fanatisme hanya mengarah kepada kehancuran.. Bukan dalam beragama saja tapi dalam kehidupan sehari hari pun tidak boleh fanatik.. Saya selau mengingat pesan imam Ali Kw yg mengatakan ” lihat apa yg di bicarakan bukan melihat siapa yg berbicara ” untuk mengingatkan saya agar menjaga diri dari fanatisme..

  17. saya says:

    keimanan sangatlah berbeda dengan fantisme, keimanan meyakini tiada Tuhan selain Allah SWT sedangakan fanatisme adalah keadaan seseorang atau kelompok yg menganut sebuah faham. walaupun Jalaluddin rumi memimpin smua umat tp keyakinan tetap tiada Tuhan selain Allah SWT

Leave a Reply

*