TIDAK ADA PERSAMAAN DERAJAT SUAMI ISTRI

Judul di atas adalah pelajaran yang saya terima dari guru- guru agama saya yang juga saya yakini kebenarannya. Ini juga salah satu sebab yang membuat perceraian saya dengan ibunya anak-anak.

INA ( singkatan ibunya anak-anak ) ngotot kalau SUAMI dan ISTRI itu sederajat. Sebagai hasil pemikiran pendapat INA itu sah-sah saja. Tapi kalau begini caranya, kita sudah beda agama dan lebih baik bercerai daripada saya tidak melaksanakan perintah Allah sebagai Imam di dunia, minimal Imam dalam keluarga.

Sebab saya berkali-kali diingatkan bahwa memang sebagian besar penghuni neraka adalah perempuan dan sebagian lagi adalah laki-laki yang tidak menjadi Imam dalam rumah tangganya. Tentunya saya tidak mau masuk neraka meskipun di sana banyak perempuannya.

Mungkin INA juga dapat dalil dari ustadznya bahwa laki- laki dan perempuan adalah sederajat dalam rumah tangga. Bisa saja demikian. Kalau bicara dalil masing- masing memang punya dalil, tapi pada kenyataannya memang laki-laki diberi kelebihan dari wanita soal LEADERSHIP. Maka lebih baik kita tangguhkan dulu dalil-dalil itu dan kita sambut fakta–fakta sebagai berikut:

  1. 1.      Tidak di turunkan NABI/ROSUL selain laki laki
  2. 2.      Semua penemu 99% laki laki
  3. 3.      Semua composer music klasik 100% laki laki

Melalui fakta-fakta tersebut, rumusan dalil-dalil di atas bisa berguguran sebaliknya fakta-fakta tersebut jelas tidak bisa disangkal. Jangan ngotot. LET’S GET REASONABLE.

Mungkin bisa saja terjadi wanita menjadi pemimpin rumah tangga, tentunya dengan kondisi kondisi istimewa yang kualifikasi pribadinya melebihi suaminya sendiri, misalnya ;

  1. 1.      Penghasilan istri lebih besar dari suami.
  2. 2.      Pengetahuan istri tentang ilmu agama dan ilmu dunia lebih banyak dari suami
  3. 3.      Suami sedang sakit.
  4. 4.      Dll yang mengisyaratkan perlunya istri menjadi pemimpin di dalam rumah tangga.

Tapi persoalannya itu semua tidak terjadi pada diri saya sebagai suami, sehingga boleh saya katakan “ saya lebih memilih akhirat daripada dunia “.